Selasa, 24 Mei 2016

PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM INDUSTRI PARIWISATA DAN DAMPAKNYA



PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM INDUSTRI PARIWISATA DAN DAMPAKNYA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Ulum al-Siyahiyah”
Description: E:\lambang.jpg

Dosen Pembimbing:
Titik KusnentiS. ST, Par, M.Par

Disusun Oleh:
Dzurotus Stimaril Fuadil Ula (D92213083)


PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2016


KATA PENGANTAR


 Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada yang ditentukan sebagai tugas mata kuliah Ulumul Siyahiyah.
Tersusunnya makalah ini tidaklah lepas dari bimbingan dan pengajaran dari para dosen khususnya ibu Titik kusneti S.st Par, M.par selaku dosen mata kuliah ulumul siyahiyah. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih atas ketersediaan beliau membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin Allahumma Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.



Surabaya, 16 Mei 2016


                                                                                                             Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ I
DAFTAR ISI ...........................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
A.    Pengertian Pariwisata................................................................................... 2
B.     Pemangku Kepentingan Dalam Industri Pariwisata.................................... 2
C.     Dampak Industri Pariwisata Terhadap Ekonomi......................................... 4
D.    Dampak Industri Pariwisata Terhadap Sosial-Budaya................................ 5
E.     Dampak Industri Pariwisata Terhadap Lingkungan.................................... 7
BAB III PENUTUP................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 11


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekagaraman hayati yang sangat tinggi yang berupa sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, udara maupun di perairan. Semua potensi tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi pengembangan kepariwisataan, khususnya wisata alam.
Sasaran tersebut di atas dapat tercapai melalui pengelolaan dan pengusahaan yang benar dan terkoordinasi, baik lintas sektoral maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan, misalnya kepariwisataan, pemerintah daerah, lingkungan hidup, dan lembaga swadaya masyarakat. Dalam pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan terdapat dampak positif dan dampak negatif, baik dalam masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan alami.
Oleh karena itu dalam pembangunan sektor kepariwisataan harus memperhatian kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup mengingat salah satu unsur wisata adalah sumber daya alam yang merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pengembangan sektor pariwisata yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup dapat berdampak negatif pada perkembangan pariwisata itu sendiri pada masa yang akan datang.
2.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian pariwisata?
2.      Bagaimana pemangku kepentingan dalam industri pariwisata?
3.      Bagaimana dampak industri pariwisata terhadap ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan?
3.      Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian pariwisata.
2.      Untuk mengetahui pemangku kepentingan dalam industri pariwisata.
3.      Untuk mengetahui dampak industri pariwisata terhadap ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Pariwisata
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk rekreasi atau liburan, dan refresing. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya. Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal. Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
2.      Pemangku Kepentingan Dalam Industri Pariwisata
Banyak negara sangat bergantung pada industry pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk banyak pihak yang secara langsung atau secara tidak langsung menjual jasa kepada wisatawan. Kepariwisataan bertujuan untuk:[1]
a.       Meningkatkan pertumbuhan ekonomi;
b.      Menghapus kemiskinan;
c.       Mengatasi pengangguran;
d.      Meningkatkan kesejahteraan rakyat;
e.       Melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya;
f.       Memajukan kebudayaan;
g.      Mengangkat citra bangsa;
h.      Memupuk rasa cinta tanah air;
i.        Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; dan
j.        Mempererat persahabatan antar bangsa.
Manfaat-manfaat yang didapatkan dari industry pariwisata dirasakan oleh para pemangku kepentingan yang terdiri atas pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat sebagai wisatawan dan sebagai tuan rumah. Masing-masing pihak terkait memiliki peran-peran dalam menjalankan roda industri.
Pemerintah dan pemerintah daerah memiliki peran dalam :[2]
a.       menyediakan informasi kepariwisataan, perlindungan hukum, keamanan dan keselamatan kepada wisatawan;
b.      menciptakan iklim yang kondusif untuk perkembangan usaha pariwisata yang meliputi terbukanya kesempatan yang sama dalam berusaha, fasilitasi, dan kepastian hukum;
c.       memelihara, mengembangkan dan melestarikan aset-aset nasional yang menjadi daya tarik wisata dan aset-aset potensial yang belum tergali, dan aset-aset potensial yang belum tergali; dan
d.      mengawasi dan mengendalikan kegiatan kepariwisataan dalam rangka mencegah dan menanggulangi berbagai dampak negatif bagi masyarakat luas.
Setiap pengusaha pariwisata berperan untuk :[3]
1.      menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat;
2.      memberikan inforamsi yang akurat dan bertanggungjawab;
3.      memberikan pelayanan yang tidak diskriminatif;
4.      memberikan kenyamanan, keramahan, perlindungan keamanan dan keselamatan wisatawan;
5.      memberikan perlindungan asuransi pada usaha pariwisata yang berisiko tinggi;
6.      mengembangkan kemitraan dengan usaha mikro dan kecil serta koperasi setempat yang saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan;
7.      mengutamakan penggunaan produk masyarakat setempat dan produk dalam negeri serta memberika kesempatan kepada tenaga kerja lokal;
8.      meningkatkan kompetensi tenaga kerja melalui pelatihan dan pendidikan;
9.      berperan aktif dalam upaya pengembangan prasarana dan program pemberdayaan masyarakat;
10.  berpartisipasi mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan kegiatan yang melanggar hukum di lingkungan tempat usaha;
11.  memelihara lingkungan yang sehat, bersih, dan asri;
12.  memelihara kelestarian lingkungan alam dan budaya;
13.  menjaga citra bagi negara dan bangsa Indonesia melalui kegiatan usaha kepariwisataan secara bertanggungjawab; dan
14.  menerapkan standar usaha dan standar kompetensi yang diterapkan oleh peraturan perundang-undangan.
Setiap masyarakat yang menjadi wisatawan berperan untuk :[4]
a.       menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat;
b.      memelihara dan melestarikan lingkunga;
c.       turut serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan; dan
d.      berpartisipasi mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan kegiatan yang melanggar hukum.
Setiap orang dalam masyarakat berperan untuk selalu menjaga dan melestarikan daya tarik wisata, dan membantu terciptanya suasana aman, tertib, bersih, berperilaku santun; dan menjaga kelestarian lingkungan destinasi.
3.      Dampak Industri Pariwisata Terhadap Ekonomi, Sosial-Budaya Dan Lingkungan
a.      Dampak pariwisata terhadap ekonomi
Dampak Pariwisata Terhadap perekonomian industri pariwisata menghasilkan manfaat ekonomi yang besar baik bagi Negara tuan rumah, maupun Negara asal para turis. Salah satu motivasi utama sebuah Negara mempromosikan dirinya sebagai Negara dengan tujuan wisata adalah timbul kemajuan dalam ekonomi, terutama bagi Negara-negara berkembang. Bersamaan dengan dampak lainnya, peningkatan ekonomi yang begitu pesat juga terjadi dengan berbagai keuntungan dan kerugian. Dapak besar pariwisata terlihat dari data World Tourism Organization, pada tahun 2000, 698 juta orang melakukan perjalanan ke luar negeri dan menghabiskan lebih dari 478 juta US dollar. Gabungan dari pendapatan pariwisata internasioanl dengan pendapatan transportasi maka menghasilkan lebih dari 575 juta US dollar, yang membuat pariwisata menjadi penghasil ekspor terbesar di dunia diikuti oleh produk otomotif, bahan kimia, minyak bumi, dan makanan. Namun, banyak kerugian tersembunyi dari pariwisata yaitu, adanya dampakdampak pada ekonomi yang tidak diharapkan oleh penduduk setempat. Seringkali keuntungan pariwisata sebuah Negara maju lebih tinggi dari Negara berkembang. Padahal Negara berkembang lebih membutuhkan pendapatan tambahan, pekerjaan, dan peningkatan standar hidup lewat pariwisata. Berdasarkan kenyataan tersebut, berbagai alasan muncul antara lain, karena adanya transfer besar-besaran pendapatan pariwisata dari Negara tuan rumah, kemudian kurang diperhatikannya bisnis dan produk dalam negeri.
Dampak Positifnya:
·         Membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal di bidang pariwisata seperti : tour guide, waiter, bell boy, dan lain-lain.
·         Dibangunnya fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik demi kenyamanan para wisatawan yang juga secara langsung dan tidak langsung bisa dipergunakan oleh penduduk lokal pula. Seperti : tempat rekreasi, mall, dan lain-lain.
·         Mendapatkan devisa (national balance payment) melalui pertukaran mata uang asing (foreign exchange).
·         Mendorong seseorang untuk berwiraswasta / wirausaha, contoh : pedagang kerajinan, penyewaan papan selancar, pemasok bahan makanan dan bunga ke hotel,dan lain-lain.
·         Meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga pendapatan pemerintah.
·         Memberikan keuntungan ekonomi kepada hotel dan restaurant. Contohnya, wisatawan yang pergi berwisata bersama keluarganya memerlukan kamar yang besar dan makanan yang lebih banyak. Dampak ekonomi tidak langsung dapat dirasakan oleh pedagang-pedagang di pasar karena permintaan terhadap barang/bahan makanan akan bertambah.
Dampak negatifnya
·         Bahaya ketergantungan yang sangat mendalam terhadap pariwisata.
·         Meningkatkan inflasi dan harga jual tanah menjadi mahal.
·         Meningkatkan impor barang dari luar negri, terutama alat-alat teknologi modern yang digunakan untuk memberikan pelayanan bermutu pada wisatawan dan juga biaya-biaya pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang ada.
·         Produksi yang bersifat musiman menyebabkan rendahnya tingkat pengembalian modal awal
·         Terjadi ketimpangan daerah dan memburuknya kesenjangan pendapatan antara beberapa kelompok masyarakat.
·         Hilangnya kontrol masyarakat lokal terhadap sumber daya ekonomi.
Naisbitt dalam “Global Paradox” menjelaskan bahwa pariwisata merupakan penyumbang bagi ekonomi global yang tidak ada tandingannya di masa yang akan datang. Adapun pertimbangannya adalah:
1.      Pariwisata memperkerjakan 204 juta orang diseluruh dunia atau satu dari setiap Sembilan pekerja, yaitu 10,6 persen dari angkatan kerja.
2.      pariwisata adalah penyumbangan ekonomi terkemuka di dunia, yang menghasilkan 10,2 persen produk domestic bruto dunia .
3.      pariwisata adalah produsen terkemuka untuk mendapatkan pajak sebesar $ 55 miliar.
Global ekonomi dan perluasan pasar dunia merupakan dua fenomena yang keberadaannya menyejarah. Pada saat ini globalisasi ekonomi dan perluasan pasar memiliki kekuatan, cakupan dan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Secara konkirt globalisasi ekonomi ditandai dengan perubahan mode of production masyarakat, yaitu dari subsistensi ke orientasi pasar-pasar regional, seperti APEC, NAFTA, AFTA dsb. Secara kelembagaan menjelma dalam percepatan komersial. Dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya perubahan sosial, seperti merebaknya tindakan individu yang lebih didasarkan pada rasionalitas ekonomi (Heru Nugroho, 1996).
Akibatnya terjadi akselerasi tindakan komersial di segala penjuru masyarakat capital dengan leluasa dapat bergerak tanpa memiliki “bendera: dan menembus setiap batas teritori Negara. Investasi modal yang dilakukan oleh perusahaan trans-nasional tumbuh dan berkembang melanda setiap penjuru dunia sehingga membentuk konfigurasi perekonomian global. Didorong oleh motif mengejar keuntungan global. Didorong oleh motif mengejar keuntungan global maka telah tumbuh tiga kawasan megamarket dunia (Heru Nugroho, 1996). Yaitu Uni Eropa, Amerika utara dan Asia Timur dan Tenggara. Pertumbuhan ekonomi dunia diperngaruhi life style terutama dalam memanfaatkan waktu luang sehingga wajar kalau frekuensi mobilitas penduduk dunia tinggi.
Ada sebuah prediksi bahwa pada tahun 2005 mencapai 11.000.000 orang ke Indonesia. Prediksi ini merupakan peluang sekaligus dunia yang semakin global tuntutan pelayanan terhadap wisma berstandar international atau mengacu pada rumusan WTO (Word Trade Organization).
Indonesia pada saat ini masih jauh tertinggal dalam menyerap arus wisatawan yang berdatangan ke kawasan Asia Pasifik. Oleh karenanya belum banyak memperoleh devisa dari sector pariwata guna pembangunan nasionalnya (JJ. Spillane, 1995).
Oleh karena itu pariwisata perlu mendapat perhatian yang serius dari pembuat kebijakan dalam negeri dan perancang kesepakatan perdagangan internasional, mengingat pariwisata di masa dating merupakan penyumbang besar kesejahteraan ekonomi dunia.
Pada visa pariwisata Indonesia tahun 2005, industry pariwisata nasional dicanangkan menjadi penghasil devisa utama. Mengingat wisatawan itu membelanjakan uangnya yang diterima di Negara yang dikunjungi (Indonesia), maka dengan sendirinya penerima dari wisatawan manca Negara merupakan fakta penting agar neraca pembayaran menguntungkan. Pariwisata merupakan bagian darinya yang dikaitkan tanpa dapat dilepas dengan sector ekonomi lain. Pemasukan dari pariwisata itu tidak hany dari uang yang dibelanjakan oleh wisatawan, melainkan dari pembangunan pariwisata yang menarik modal asing, seperti Hotel-hotel bertaraf international dibangun, pembangunan sarana jalan, airport, pelabuhan, kawasan wisata, telekomunikasi dan lain-lain. Akan tetapi penerimaan dari pariwisata menambah besar volume uang di dalam masyarakat dan kondisi ini dapat menimbulakan inflansi. Apabila produksi dalam negeri tidak bertambah. Hal inilah yang menyebabkan di kawasan pariwisata harga-harga biasanya jauh lebih mahal dari pada kawasan lain terutama yang bukan kawasan pariwasta.
Sarana pariwisata seperti hotel, restoran, perusahaan perjalanan adalah merupakan usaha-usaha yang dapat karya (labour intersive). Selain itu pariwisata juga menciptakan tidak langsung berhubungan dengan pariwisata misalnya bidang konstruksi bangunan, jalan dan lain-lain.
Disisi lain dengan pembangunan pariwisata meningkatkan usaha sector informal, juga menimbulkan menjamurnya pedagang asongan. Khusus untuk pedangan asongan ini di beberapa kelemahan antara lain:
·         Dilakukan oleh anak-anak dibawah umur, mereka cenderung mengutamakan uang dari pada sekolah.
·         Maraknya pedagang asongan membuat kenyamanan wisatawan terganggu, karena ada unsur pemaksaan dari mereka.
·         Beralihnya tenaga kerja sector produksi pertania ke perdagangan.
b.      Dampak pariwisata terhadap social-budaya
Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan Pariwisata disuatu daerah terhadap Sosial Budaya sangat terasa apalagi daerah tersebut menerima pengaruh dengan cepat tanpa ada penyaringan yang ketat terhadap kedatangan wisatawan.. Salah satu hal adalah dimana daerah yang dituju merupakan daerah yang lemah dalam bidang ekonomi, dengan sendirinya akan mengikuti Perkembangan dan merubah tatanan perekonomian sendiri salah satu contoh mengubah mata pencaharian semula yang mereka lakukan secara tradisional menjadi lebih modern.
Masalah tentang dampak Pariwisata terhadap sosial budaya selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):
a.       perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial-budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
b.      perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
c.       perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.
Menurut pendapat diatas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap sosial-budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang akan merubah secara pasti terhadap social budaya pada masyarakat local.
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat yang dituju, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat. Oleh karena pariwisata banyak dikatakan sebagai perubah yang laur biasa, mampu membuat masyarakat setempat mengalami perubahan dalam berbagai aspek.
Dalam perubahan yang diakibatkan oleh Pariwisata Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak Pariwisata terhadap sosial budaya ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:
a.       dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya;
b.      dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat;
c.       dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial;
d.      dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata;
e.       dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat;
f.       dampak terhadap pola pembagian kerja;
g.      dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial;
h.      dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan;
i.        dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial; dan
j.        dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.
Dari pendapat Cohen tersebut diatas mengenai dampak pariwisata dapat disimpulan, bahwa daerah tujuan wisata akan merasakan pengaruh yang luar biasa dari wisatawan yang datang yaitu dari mengenai unsur kebudayaan universal di daerah. Sebagai mana yang di kemukan oleh C.Kluckhohn dalam Koentjaraningrat merumuskan 7 unsur Kebudayaan .
1.      Sistem Bahasa
Bahasa yang digunakan pada daerah ini adalah Sunda dengan dialek yang sama dengan sunda lainnya,
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat baik berupa lisan maupun tulisan atau berbentuk symbol simbol
2.      Sistem mata Pencaharian
Untuk menunjang hidup sehari hari, setiap masyarakat pasti memiliki mata pencaharian utama yang berbeda ditiap daerah, sehingga terdapat suku bangsa memiliki mata pencaharian yang khas dibandingkan dengan dengan suku bangsa lain.
3.      Sistem Teknologi
Teknologi atau peralatan hidup lain yang dimiliki oleh setiap masyarakat mungkin berbeda beda tergantung dimana masyarakat itu berada.
4.      Sistem Organisasi Sosial
Suku bangsa yang merupakan kelompok mayarakat besar akan memiliki system kemasyarakatannya yang mungkin berbeda dengan suku bangsa lain: misalnya suku bangsa sunda dan jawa.
5.      Sistem Pengetahuan
Masyarakat memilki pengetahuan yang digunakan dalam kehidupan sehari hari baik dalam bidang agriris maupun dalam bidang pengobatan.
6.      Sistem Kesenian
Masyarakat atau suku bangsa memiliki persaan yang dituangkan kedalam bentuk benci, sedih, gembira, jengkel, bahagia dan sebagainya.perasaan timul dari setiap individu atau masyarakat dalat dilakukan de dalam bentuk seni atau perasaan dapat muncul karena seni.
7.      Sistem Religi
Kepercayaan ditiap daerah itu berbeda merupakan warisan masa lampau dari perjalanan hidup masyarakat bersangkutan sebagai warisan budayanya. Keyakinan setempat yang diyakini masyarakatnya wajib dihormati oleh masyarakat lain, begitu pula dalam upacara ritual yang berhubungan dengan keyakinan.
d.      Dampak pariwisata terhadap lingkungan
Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik. Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik tersebut yang rapuh (fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat rapuh karena lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak belum tentu akan tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan karena manusia harus mendatangi lingkungan alam untuk dapat menikmatinya.
Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan gejala alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah perkotaan, wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah).
Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus mutual dan bermanfaat. Wisatawan menikmati keindahan alam dan pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan memelihara alam guna keberlangsungan pariwisata. Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak selamanya simbiosa yang mendukung dan menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan pendidikan dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang ada hubungan keduanya justru memunculkan konflik. Pariwisata lebih sering mengeksploitasi lingkungan alam.
Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang mudah diidentifikasi karena nyata. Pariwisata memberikan keuntungan dan kerugian, sebagai berikut :
1.      Air
Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen pencucian linen hotel) dan limbah padat(sisa makanan tamu). Limbah-limbah itu mencemari laut, danau dan sungai. Air juga mendapatkan polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi air seperti dari kapal pesiar.Akibat dari pembuangan limbah, maka lingkungan terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, perubahan dan kerusakan vegetasi air, nilai estetika perairan berkurang (seperti warna laut berubah dari warnabiru menjadi warna hitam) dan badan air beracun sehingga makanan laut (seafood) menjadi berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat mandi dan berenang karena air di laut, danau dan sungai tercemar.Masyarakat dan wisatawan saling menjaga kebersihan perairan.Guna mengurangi polusi air, alat transportasi air yang digunakan, yakni angkutan yang ramah lingkungan, seperti : perahu dayung, kayak, dan kano.
2.      Atmosfir
Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman dan cepat. Namun, angkutan udara berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil buangan emisinya dilepas di udara yang menyebabkan atmosfir tercemar dan gemuruh mesin pesawat menyebabkan polusi suara. Selain itu, udara tercemar kibat emisi kendaraan darat (mobil, bus) dan bunyi deru mesin kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi udara dan polisi suara, maka nilai wisata berkurang, pengalaman menjadi tidak menyenangkan dan memberikandampak negatif bagi vegetasi dan hewan.Inovasi kendaraan ramah lingkungan dan angkutan udara berpenumpang massal (seperti pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) dilakukan guna menekan polusi udara dan suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan bermotor juga dilakukan dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.
3.      Pantai dan pulau
Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan. Namun, pantai dan pulau sering menjaditempat yang mendapatkan dampak negatif dari pariwisata. Pembangunan fasilitas wisata di pantai dan pulau, pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan infrastruktur (bandara, pelabuhan) mempengaruhi kapasitas pantai dan pulau.Lingkungan tepian pantai rusak (contoh pembabatan hutan bakau untuk pendirian akomodasi tepi pantai),kerusakan karang laut, hilangnya peruntukan lahan pantai tradisional dan erosi pantai menjadi beberapaakibat pembangunan pariwisata.Preservasi dan konservasi pantai dan laut menjadi pilihan untuk memperpanjang usia pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan kawasan konservasi menjadi pilihan. Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata yang bersifat ramah lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman NasionalKepulauan Seribu) menawarkan paket perjalanan yang ramah lingkungan yang menawarkan aktivitas menanam lamun dan menanam bakau di laut.
4.      Pegunungan dan area liar
Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke pegunungan untuk berganti suasana. Aktivitas di pegunungan berpotensi merusak gunung dan area liarnya. Pembukaan jalur pendakian, pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable car), dan pembangunan fasilitas lainnya merupakanbeberapa contoh pembangunan yang berpotensi merusak gunung dan area liar. Akibatnya terjadi tanahlongsor, erosi tanah, menipisnya vegetasi pegunungan (yang bisa menjadi paru-paru masyarakat) ,potensi polusi visual dan banjir yang berlebihan karena gunung tidak mampu menyerap air hujan. Reboisasi (penanaman kembali pepohonan di pegunungan) dan peremajaan pegunungan dilakukan sebagai upaya pencegahan kerusakan pegunungan dan area liar.
5.      Vegetasi
Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan (akibat api unggun di perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan jamur untuk kebutuhan wisatawan merupakan beberapa kegiatan yang merusak vegetasi. Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi erosi lahan), perubahan struktur tanaman(misalnya pohon yang seharusnya berbuah setiap tiga bulan berubah menjadi setiap enam bulan, bahkanmenjadi tidak berbuah), hilangnya spesies tanaman langka dan kerusakan habitat tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi terganggu dan tidak seimbang.
6.      Kehidupan satwa liar
Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Wisatawan terpesona dengan pola hiduphewan. namun, kegiatan wisata mengganggu kehidupan satwa-satwa tersebut. Komposisi fauna berubahakibat:pemburuan hewan sebagai cinderamata, pelecehan satwa liar untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan, gangguan reproduksi hewan (berkembang biak), perubahan insting hewan (contohhewan komodo yang dahulunya hewan ganas menjadi hewan jinak yang dilindungi), migrasi hewan (ketempat yang lebih baik). Jumlah hewan liar berkurang, akibatnya ketika wisatawan mengunjungi daerah wisata, ia tidak lagi mudah menemukan satwa-satwa tersebut
7.      Situs sejarah, budaya, dan keagamaan
Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan situs sejarah, budaya dan keagamaanmudah rusak. Kepadatan di daerah wisata, alterasi fungsi awal situs, komersialisasi daerah wisasta menjadi beberapa contoh dampak negatif kegiatan wisata terhadap lingkungan fisik. Situs keagamaan didatangi oleh banyak wisatawan sehingga mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah yang suci. Situs budaya digunakan secara komersial sehingga dieksploitasi secara berlebihan (contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas). Kapasitas daya tampung situs sejarah, budaya dan keagamaan dpat diperkirakan dan dikendalikan melalui manajemen pengunjung sebagai upaya mengurangi kerusakan pada situs sejarah, budaya dan keagamaan. Upaya konservasi dan preservasi serta renovasi dapat dilakukan untuk memperpanjang usia situs-situs tersebut.
8.      Wilayah perkotaan dan pedesaan
Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan bangunan lain dibutuhkan di daerah tujuanwisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan hanya menyebabkan tekanan terhadap lahan, melainkan juga perubahan fungsi lahan tempat tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan polusi estetika (terutama ketika bangunan didirikan tanpa aturan penataan yang benar). Dampak buruk itu dapatdiatasi dengan melakukan manajemen pengunjung dan penataan wilayah kota atau desa serta membedayakan masyarakat untuk mengambil andil yang besar dalam pembangunan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk rekreasi atau liburan, dan refresing. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa.
Pemangku Kepentingan Dalam Industri Pariwisata yang terdiri atas pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat sebagai wisatawan dan sebagai tuan rumah. Masing-masing pihak terkait memiliki peran-peran dalam menjalankan roda industri.
Dampak Industri Pariwisata terdiri dari
a.       Dampak pariwisata terhadap ekonomi,
b.      Dampak pariwisata terhadap social-budaya dan
c.       Dampak pariwisata terhadap lingkungan

















DAFTAR PUSTAKA
Ismayanti. 2010. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Grasindo.


[1] Ismayanti. Pengantar Pariwisata. 2010. Jakarta: Grasindo.Hal 21
[2] Ibid. hal 22
[3] Ibid. Hal 22
[4] Ibid. Hal 23